Wanita yang Tak Pernah Tercatat Dalam Lembar Kalam

Aku berkenalan, dengan bayang tanpa nama
Yang kemudian kuketahui ia wanita
Sebab di tubuhnya kudapati liang senggama

Wajahnya ayu
Perempuan Bermata Sayu
Sudah kuputuskan, aku memanggilnya demikian

Ia tak pernah bersuara
Namun banyak sekali bercerita
Dengan bahasa yang lebih rahasia dari senja

Dikatakannya, Ia pengantin Adam
Si manusia kelahiran surga
Berasal mula dari debu, berjuta tahun lalu

Ia ada, jauh sebelum Hawa
Jauh sebelum wanita penuh rasa ingin tahu
Membelah bumi dan langit hingga manusia tercecer ke dunia

Ia mempelai surga
Dicipta sepasang dengan lelaki pertama
Tapi Tuhan lupa memberinya nama

Ada jeda,
Panjang, seperti jalan kereta …
Kutemui setitik gerimis di ujung mata
Mengisahkan kepedihan yang lebih kelam dari neraka

; Aku telah dihapuskan
Seolah tak pernah ada,
Aku tak pernah tercipta
Sejarah telah meniadakanku sebelum sempat menuliskanku
Bukan Tuhan lupa memberi nama
– Dia Maha Sempurna
Hanya sengaja berbuat kejam,
Pada wanita yang tak pernah tercatat dalam lembaran kalam

Keheningan menyayat sayat gemulai angin
Mencekatkan tangisan yang membeku dalam dingin
Riuh sunyi lantas membawanya pergi
Mengakhiri kisah yang tak pernah dimulai

eMa, Oktober 2011

21 Comments

    1. Iyaaaa… Baru baca kata pengantarnya nih.. Belom juga masuk puisinya.. Udah ngalir kata katanya..
      Penasaran apa yang bakal gue dapetin saat gw menyelesaikan buku ini.. 😀

      Makasih yess *kecupkecup

  1. Jelas sekali otakku harus berkali-kali mengulang membacanya agar paham. haha, aku memang lemah soal puisi seperti ini teh. tapi toh nyatanya puisimu yang ini bikin aku ingin memahaminya. bagus. 🙂

    1. aduh, falafu..
      blogmu yang ku bookmarked, tapi kamulah yang lebih dulu mengunjungiku..
      waw, kamu penulis, disukai oleh penulis senior seperti kalian ini, sudah perncapaian sendiri untuk sakakku..
      makasih yaa.. :*

  2. nah, mulai bermain dengan rima patah ya. andai saja di tiap baitnya terdiri dari empat larik, rima patah itu pasti lebih merdu. andai saja elipsis yang tidak perlu di bait ke-7 itu dibuang, pasti lebih apik. entah mau bagaimana kau membentuk karakter puisimu, tapi, aku melihat ada upaya pendekatan diri dengan Tuhan di tiap puisimu akhir-akhir ini. oh, ada getir, selalu tentang kegetiran dan kegelisahan di puisi-puisimu ya, di bait akhir, diakhiri dengan bait yang meninggalkan tanya, aku suka sekali. tapi saranku, hati-hati bermain rima, jangan sampai terjebak seperti aku dulu. tabik. 🙂

    1. wow..
      commentnya berat nih..
      iya, aku lagi coba rima patah, sengaja kubikin tiga larik, karna ingin jadi (setengah) sajak bebas 😀
      bait ketujuh ya, sama, aku juga merasa agak patah di situ, tapi bukankah kalau ngga ada bait ketujuh itu, puisinya akan seperti “lompat” ??
      Nah, jangan salahkan aku, entah kenapa, aku selalu berpuisi tentang Tuhan.. entah kenapa, puisiku selalu berbiacara tentang kegetiran, suram..
      coba lihat seluruh sajakku, adakah puisi ceria di sana? ngga ada 😐

    2. eMa, Ema Rachmawati yang baik, jangan terlalu bersemangat membaca komentarku, coba perhatikan, yang aku maksud hanya elipsis pada bait ke-7 saja, bukan keseluruhan kalimatnya. bait ke-7-nya keren kok. (keren ngga nyampahku yang sok serius ini?) :))

    3. hahaa.. elipsis itu apa ya kakak?? *ketauan bgd masih bego di dunia sastra*

      wuih.. commentmu mah yang paling ho’oh dee..!! selalu 🙂

    4. wot? tempo hari kita kan udah pernah bahas soal elipsis, yang km nunjukin selembar puisi waktu meeting. cepet amat lupanya, masih ABG juga. 😐

      aku komen cuma ngasal ini, eM. dikasi tau penyair di dalam kepalaku. eaaaazzz… 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *