puisi / Racauan Sunyi

Tuan, Anda Punya Api [?]

kalau Tuan berkenan saya bisa melayani

di ujung bukit,
keheningan menyayat diri
sunyi membelit
alir sungai meriap di bawah nadi

.

mungkin Tuan kesepian

ranjang berderit mengiramakan malam
desah nafas tertahan membahasakan jeritan
nurani terjepit di antara belahan kulit
.

bisa jadi Tuan kedinginan

di depan tungku wanita tua mendudukkan pantat besarnya
di lantai, nyala merah menari-nari di wajahnya yang pasi
menunggu jam dinding berdentang dua belas kali
pisau di tangan kiri
sebuah senyuman tersungging miring

.

tapi Tuan tidak harus pulang

ini bukan malam, bukan pula siang
langit terlalu muram untuk memadamkan lampu
awan menggerakkan badannya menjauh
seekor burung berdiam di atas ranting
mengawasi seorang lelaki yang bergegas melintas

.

tak ada pelukan menanti Tuan

sebilah pisau terhunus di dada kaku
darah membeku di antara kaki
di depan perapian

.

Tuan,

saya punya birahi
anda punya api [?]

nyalakanlah,
kita berpesta di neraka

eMa, Januari 2012

1 thought on “Tuan, Anda Punya Api [?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *