Tentang Kepergianmu

: Novardhian Vibryanto

 

“Aku sanggup menghadapi seribu kepergian, tapi tak satupun kehilangan.” – Dea Anugerah

 

Rasa sakit itu tak pernah beranjak pergi. Tidak sedetikpun sejak kematian membawamu meninggalkan kami, hingga detik ketika kepedihan ini kutulis. Kesedihan masih sama besar dan kokoh, lapis berbaris sepanjang dada kami seolah memagari hati untuk tinggal dalam kedukaan panjang.

*

Segala tentangmu masih lekat di ingatan.

Kamu adalah anak tengah yang selalu menjadi kesayangan Mama Papa sampai membikinmu manja dan tak pernah mampu lepas dari ketek Mama. Sejak kecil kita berdua berlomba untuk dapat perhatian Mama, mulai dari siapa yang diajak jalan-jalan, sampai siapa yang tidur di samping Mama.

Menyebalkan! Usia kita saja terpaut 4 tahun, kamu lelaki dan aku perempuan, sudah seharusnya kamu yang lebih sering mengalah. Tapi memang kamu terlalu mencintai Mama Papa, semua tingkah cari perhatianmu tak lebih karena kamu ingin selalu ada di dekat mereka, dibahagiakan dan membahagiakan mereka.

Tapi itu sebabnya kita selalu bertengkar. Nyaris setiap hari. Beradu mulut, berlomba kencang teriakan yang mengandung makian kotor, sampai adu gulat jambak-jambakan, saling menendang bahkan melempar semua benda yang berada di jangkauan tangan (eh, ini aku sih pelakunya). Lalu sehari berbaikan kembali. Atau kadang butuh waktu seminggu. Yaaa… pernah sih, sampai perlu berbulan-bulan untuk saling bicara lagi. – -“

Namun aku masih merekam jelas kejadian demi kejadian ketika kamu melindungiku dari amukan Papa atau Mas Rully. Kamu yang menjadi tameng ketika aku nakal keterlaluan sampai mereka berniat memukulku. Bahkan, aku ingat, waktu itu kita sedang bertengkar, kamu pukul aku, aku lempar barang ke kamu, meleset… kena Mas Rully, lalu dia marah dan mau mukul aku. Tiba-tiba kamu maju dan menghadang pukulannya, sampai akhirnya dia melampiaskan kemarahannya jadi mukulin kamu, sampai Papa datang dan memisahkan kalian.

Di situ aku tahu, kamu Kakak menyebalkan yang luar biasa menyayangi aku.

 

Aku tau aku selalu bisa mengandalkan kamu.

Di setiap kali aku berada dalam masalah, dari sepele hingga akut, kamu selalu bisa dan bersedia diandalkan. Di satu peristiwa terakhir, kamu menyelamatkan aku di tengah malam buta dari jebakan seorang laki-laki brengsek yang berniat mengurungku di suatu tempat. Saat itu kamu ngga berhasil bawa aku pulang, kamu membujukku dan berkata “Kamu tidur dulu ya, malam ini.. Besok aku bawa kamu pulang. Janji. Kantor polisi aja bisa aku obrak-abrik, apalagi tempat kaya gini.” Maka aku menyerah pada kantuk yang dihantarkan obat bius di darahku sejak berjam-jam lalu, aku percaya kamu. Paginya, ketika aku cuma bisa pasrah dengan keterkurunganku dan mulai menyerah, kamu tepati janjimu. Kamu datang dan mengajakku pulanhg. Pesanmu waktu itu; “Udah, hapus airmatamu itu. Jangan bikin masalah lagi, jangan bikin pusing Papa Mama lagi!” “Iyah!”. Aku bersumpah, bik, ngga akan bikin sedih Mama Papa lagi, demi kamu.

 

Sejak itu, waktu terbang sampai tiba pada hari-hari menjelang pernikahanku.

Kamu sakit. Tepat sehari sebelum akad nikah, kamu masuk rumah sakit. Aku ingat memendam marah ke kamu saat itu. Selama seminggu kamu terbaring sakit di rumah, semua orang membujuk-bujuk kamu untuk mau dirawat dan kamu menolak, bagaimana mungkin kamu memilih untuk bersedia masuk rumah sakit tepat beberapa jam sebelum akad nikahku??

Aku marah. Aku merassa kamu sengaja merebut kebahagiaanku. Sebab karena kamu dirawat, tingkat stress Papa Mama semakin memuncak, sampai malam itu aku dibentak-bentak dimarahin Papa, diteriaki Mama, entah sebab apa.

Aku nangis. Kamu tega merebut kebahagiaanku di hari bahagiaku. Sepanjang pagi sebelum acara dimulai, Papa menangis “Kasihan Pibik.. Kasihan Pibik..” karena kamu ngga bisa nyaksiin aku dinikahi lelaki kesayanganku.

Aku terluka. Kakak kesayanganku lebih suka menunda masuk rumah sakit dan memilih untuk tidak menghadiri akad nikahku.

Tapi aku memaafkanmu. Karena tepat di hari resepsi pernikahanku, kamu pulang. Wajahmu yang segar habis cuci darah pertama kali seakan membayar kekecewaanku di beberapa hari sebelumnya. Kamu datang ke pestaku.

 

keceriaan terakhir
keceriaan terakhir

 

Lalu tiba-tiba waktu melompat sekejap mata.

Hanya sebulan sejak aku menikah, kamu dinyatakan gagal ginjal dan harus treatment cuci darah 2x seminggu.

Sejak itu, kesedihan menggayuti rumah kita…

Perawatan demi perawatan, rumah sakit demi rumah sakit. Ruang UGD, ruang Hemodialisa, ruang kamar inap, poliklinik, cek darah, transfusi, jarum suntik, obat-obatan, air mata, harapan, doa, ketidak-percayaan, sampai rasa menyerah menghantui hari-hari kita selama enam bulan terakhir.

 

Aku membencimu!!!

Kenapa kamu ngga mau rajin minum obat-obatmu??

Kenapa sejak mulai sakit bertahap bertahun-tahun lalu, kamu ngga mau menghiraukan kata-kata dokter??

Kenapa kamu masih saja memakan makanan-makanan yang jelas-jelas dipantang buatmu??

Kenapa kamu susah banget dilarang minum air putih banyak-banyak padahal dokter jelas melarang pasien gagal ginjal untuk mengkonsumsi air putih lebih dari 800ml sehari??

Kenapa kamu harus sakit dan begitu tidak berdaya padahal usiamu masih amat muda??

Kenapa kamu semakin layu setiap harinya??

Kenapa tubuhmu semakin lemah??

Kenapa kamu ngga bisa diajak jalan-jalan lagi padahal kamu bilang sangat ingin jalan-jalan??

Kenapa kamu biarkan dirimu tersiksa sesak napas??

Kenapa kamu mau aja susah tidur setiap malam, hingga nyaris tidak tidur setiap hari karena sesak napas??

Kenapa perutmu yang membesar itu ngga bisa kempes sampai kamu kesulitan bernapas??

Kenapa tiba-tiba kamu ngga bisa berjalan lagi??

Kenapa bahkan untuk menggeser badan saja kamu ngga mampu??

Kenapa kamu bisa begitu tidak berdaya-nya sampai selalu pupu di celana??

Kenapa kamu minta maaf sama Mama seolah-olah kamu sudah menyerah??

Kenapa omonganmu sudah melantur??

Kenapa kamu berhalusinasi melihat makhluk ini-itu yang jelas-jelas cuma ada di kepalamu??

Kenapa kamu bilang ke Budhe Yati “Budhe… jalan hidupku kok kaya gini ya, Budhe?” ??

Kenapa selama berhari-hari kamu tidak bisa tidur dan ngomong ngga berhenti ngajak cerita siapapun yang ada di dekatmu??

Kenapa kamu minta ketemu Mas Rully, Om Cep, dan orang-orang dekatmu??

Kenapa kamu tidak lagi seperti kamu??

Kenapa kamu biarkan kehidupan perlahan-lahan dicabut satu demi satu dari tubuhmu??

Kenapa kamu ngga bisa cukur kumis jenggotmu sendiri sampai aku bantu kamu mencukur kumis jenggotmu dalam setengah sadarmu??

Kenapa kamu seolah ngasih tau aku bahwa kamu ngga akan pernah bisa gendong anakku yang sebentar  lagi lahir??

Kenapa kamu begitu lemah di atas tempat tidur di rumah sakit waktu itu?? –Dengan wajahmu yang mendadak terlihat sangat bersih dan putih tanpa noda, kamu bilang ke istrimu, aku, dan Mas Rully “Aku besok pulang jam sepuluh pagi ya…”

Kenapa pada pukul sembilan tiga puluh pagi keesokan harinya, kamu benar-benar pergi meninggalkan kami semua??

Kenapa, bik? Kenapa???

**

Aku tak ingin usai menulismu.

Tapi segalanya memang mesti mencapai usai. Seperti usia yang telah membawamu menuju akhir waktumu, sampai harus pergi mengusaikan cerita hidupmu, dan melarutkan kami dalam kesedihan yang seperti tanpa batas.

 

Begitu banyak penyesalan dalam dadaku yang menyiksa aku nyaris setiap pagi, siang, sore, malam, karena tidak becus menjadi adik yang baik buat kamu.

Di satu malam, beberapa hari menjelang kepergianmu, aku masuk ke kamarmu karena mau ke kamar mandi dan seperti biasa menemukanmu yang tidak bisa tidur, duduk di pinggir ranjang. Waktu itu setengah tiga pagi, kamu berkata dengan lirih “Dek, bantuin aku jalan ke kursi ruang tengah, dek”

Aku pegang tanganmu, terkejut karena tanganmu begitu lembek dan kurus, sangat tidak singkron dengan perut, paha, sampai telapak kakimu yang begitu bengkak karena cairan yang tidak mampu dibuang tubuhmu. Aku memapahmu keluar kamar sambil menangis, saat itu aku tau, kamu sudah mau pergi.

Aku lantas mengecup keningmu dan bilang sambil tersedu “Aku sayang kamu ya, Bik.”

Aku menyesal, tidak menemanimu dalam insomniamu dengan duduk di samping kursimu malam itu, sambil terus mengulang “Pibik, aku sayang kamu.. Aku sayang kamu.. Aku sayang kamu, ya, Bik.” Sampai pagi. Sampai kamu mengerti, aku selalu sayang kamu sejak kecil tak peduli seberapa kerasnya makianku ke kamu, selama masa remajaku tak peduli seberapa seringnya aku mengacuhkanmu, sampai kita dewasa tak peduli seberapa seringnya kita tak bertemu, sampai usia tuaku tak peduli meski kita tak akan pernah bertemu lagi. Aku sayang kamu. Sayang kamu selamanya.

***

Aku menyiapkan hati untuk kepergianmu, jauh-jauh hari. Tapi tak satupun sel dalam tubuhku pernah siap untuk kehilanganmu…

 

three of us and our first 'lil angel
the three of us and our first ‘lil angel
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *