Sepotong Bibir Merah Muda di atas Meja

Sepotong bibir merah muda di atas meja
menggoda gairahku untuk bercanda
kepingan-kepingan ingatan seketika menyesakkan kepala
aku menggila pada sesibir bibir merona milik seorang ksatria

Lalu seketika
aku tersesat ke dalam khayal imaji
tentang cinta yang yang birahi
memutar kenangan di kepala
terekam jelas meski bernoda
; hitam memudar seperti tayangan sebuah film tua

Masih dapat kunikmati dengan benar
bahkan terasa bergetar
bibir merah muda yang pertama malu-malu
lalu menjarah dahaga dengan lugu
basah dalam geliat
melekat erat
hingga kurasakan neraka terlpental ke alam baka
dan surga memijak dunia

Kitalah pendosa di ciuman pertama
geliat birahi yang ditarikan seronok oleh sepasang lidah dalam pagutan
merajam kita ke dalam dosa ternikmat yang diamini para malaikat

Dan hidupku tak pernah sama lagi
– sepotong bibir merah muda telah membakar surga persemayaman dewata

Aku yang dahaga, haus akan cinta
segala Tuhan-pun tak mampu memuaskan dahaga akan rinduku
yang meranggas di setiap detak-detik waktu
merindu cintamu
melapar oleh bibirmu

Buah terlarang dari surga, menjelma sebentuk bibir merah muda
; milik lelaki yang didahagakan cinta

Sudah, sudahilah senja ini
sisakan ciuman-ciuman untuk malam nanti aku bermimpi
; tentang sepotong bibir merah muda, penjarah sepi

Jakarta, Mei 2011

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *