Semesta di Tubuhku

Sejak kecil, aku adalah perempuan manja dan egois. Anak terakhir dari tiga bersaudara dengan dua kakak laki-laki dan Papa-Mama yang mengistimewakan anak perempuannya sebagai doa yang dikabulkan.

Aku terbiasa mencintai diriku sendiri. Kalaupun ada orang lain atau lelaki yang kucintai, adalah semata demi melengkapi kecintaanku pada diri sendiri. Tak terbayangkan bahwa kelak aku akan mampu mencintai orang lain lebih dari aku mencintai diri sendiri, apalagi membuatku mencinta lebih dari kecintaanku pada apapun di dunia.

 

Tapi hari itu tiba. 9 November 2014.

Hari pertama kalinya aku tahu ada makhluk asing sedang mendiami tubuhku. Sesosok makhluk yang tak pernah aku duga, bahkan tak berani kuharapkan akan muncul secepat itu; belum sebulan setelah aku dinikahi seorang lelaki luar biasa yang membuatku jatuh cinta sebesar aku mencintai diriku.

Aku hamil.

Belum sebulan sejak kami menikah; pecinta kucing; sering konsumsi obat diet yang konon mengakibatkan kering rahim; takut berharap; dan seribu alasan lainnya berputar di kepala. Mencegahku percaya bahwa Tuhan begitu murah hati.

Tapi Mas Indra percaya. Dia curiga. Eh, kelewat berharap, tepatnya. Riwil sekali dengan pertanyaan “kamu udah haid belom?” Yang selalu kutepis “yaelah, broh.. santai aja sik! baru berapa minggu inih?!“. Walau akhirnya, kuturuti juga kemauannya paling tidak untuk sekedar membeli testpack. Hanya demi membungkam harapannya, agar tak sampai menular menjadi harapanku juga. Bukan apa-apa, aku cuma takut kecewa. #anaknyakeseringandikecewain

Super dini hari itu, kujajal testpack pertama dengan kesadaran yang masih separuh nyangkut di alam mimpi. Dan…..

dua garis!!

WHAT??!!! *melek beneran*

Masa iya?! Ah, kok bisa?! Hah?! Serius ini ah.. Salah ngga sih?! Aduh.. Yang bener ini?! Aduh.. KYAAAAAAAAA!!!

*beli testpack lagi*

Aku harus memastikan sepasti-pastinya sebelum harapanku terbang terlampau tinggi, sebelum Mas Indra yang saat itu sedang liburan di Korea sana mengepakkan syukurnya hanya untuk kecewa kemudian.

Lalu,

dua merah yang jelas 🙂

Aku jatuh terduduk. Gemetar hebat. Gembira dan tidak percaya. Aku hamil. Aku akan punya anak. Darah dagingku. Duniaku mendadak berbinar-binar. Ada Semesta di tubuhku…

Saat itu ia terlalu kecil untuk kurasakan kehadirannya. Di kunjungan pertamaku ke dokter pun, yang terlihat hanya lingkaran hitam; kantung kehamilan. Ia belum nampak, belum berdetak. Tapi aku tau, sejak saat itu, aku bukan lagi perempuan yang sama seperti kemarin.

Aku mencintai Semesta kecil yang sedang bertumbuh di tubuhku melebihi apapun yang ada di jagat raya.

Mama jatuh cinta padamu, nak, jauh sebelum kita bertemu. Jauh sebelum Mama mampu memelukmu.

Tumbuhlah yang kuat, Semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *