Sementara Kau Tertidur…

: Novardhian Vibryanto

 

Kehidupan telah memilih kita untuk menjadi saudara. Anak lelaki tengah super manja dan adik perempuannya yang galak.

Kehidupan telah memaksa kita jatuh cinta dan saling mengurai benci. Pertengkaran sengit dengan jerit caci maki sekaligus rasa sayang selekat ikatan rahim.

Kehidupan telah membawa kita tumbuh bersama. Aku menyaksikan hari perkawinanmu dengan seorang wanita yang kita sama yakini akan membuatmu bahagia, pun kau menyaksikanku bersanding dengan lelaki yang kita sama pastikan takkan membuatku menangis.

Kehidupan telah memasung kita untuk percaya cinta. Sekuat apapun badai menghajar satu persatu pertahanan kita, tak sekalipun kita berdua tumbang melawan takdir untuk bisa bangkit kembali. Sebab bagi kita, keluarga adalah semesta raya.

Kupikir kehidupan akan membawa kita terus hingga usia menumbuhkan putih di masing-masing kepala, kerut keriput memenuhi muka, dan tulang tua yang dipaksakan menggendong anak dari anak kita masing-masing.

Kupikir kehidupan akan membuatku memiliki teman bertengkar abadi sekaligus kakak kesayangan sampai mati. Bukannya melihatmu perlahan mengabur dikubur penyakit yang menggerogoti kewarasan kita.

Kini kulihat layu di matamu. Seolah kehidupan telah dijumput sedikit demi sedikit dari tubuhmu, sementara kehidupan lain sedang bertumbuh di rahimku. 

Tapi bukankah kehidupan yang diberikan orang tua kita kepadamu dan aku, tak pernah mengajarkan kita untuk menyerah? Bukankah kita telah bersumpah takkan membiarkan airmata tumpah di wajah tua mereka tanpa mampu mengusapnya?

Jadi bertahanlah, bandit! Bertahanlah sedikit lagi. Sampai kulihat anak-anakmu menikah dan kau lihat cucu-cucuku terlahir. Sampai mampu kita bahagiakan Papa Mama dengan kebahagiaan kita.

Bertahanlah, Mas Pibik! Bertahanlah…

 

*ps: foto pada cover tulisan ini diambil atas permintaan Mas Vibry sendiri, secara sadar. selfie terakhir kami.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *