Sajak Sembilan Ubun-Ubun

redup cahaya
kilau keemasan di malam penuh tawa
;bergema mengisi kata-kata.

lampu-lampu jalan merekam cerita,
menerangi tubuh-tubuh
saling mencari tahu, menyimpan rindu.
hingga temaram sisa sepertiga malam
tak akan koyak oleh angin perubahan

senja kala mencoba mencerna kita
menggapai malam membaurkan kata,
melesapkan cahaya dalam doa-doa
tak bertuan, belum bertuhan.

sementara kenangan lesap menetap,
atau sekelebat numpang lewat
mencerca angin yang masuk turut,
sok akrab sok bersahabat.

ini cerita kita,
menukar suapan makanan
kesukaan milikmu dengan ciuman
tanpa tanya, hanya artikan cerita di pinggir jalan.

hingga segala cahaya itu luntur,
meredup kelam tenggelam berubah jadi malam,
hingga menjadi bias lepas merampas
keindahan jari-jari yang melekat erat.

sembilan ubun-ubun,
malam meremah di atasnya, biarkan saja!
lalu malam menuai-buai semua bual,
menjelma kenangan yang tak berbasuh
:embun musim kerontang.

~ kolaborasi indah di sebuah malam depan TIM, sembilan penyair, menguntai kata: Aul Soemitro, Oddie Frente, Dedi Rahyudi, Diki Umbara, Jeventino, Ema Rachmaawati, Intan AP, Roman Nikho, Disa Tannos
dan seperti biasa, typography indah dipersembahkan oleh Adee “@delune”

Jakarta, Agustus 2011

2 thoughts on “Sajak Sembilan Ubun-Ubun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *