Pidato Pembukaan Ketua Panitia Gathering dan Launching Buku Sajak Cinta

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera penuh cinta bagi kita semua.

Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan cinta-Nya kepada kita. Hari ini dan hari-hari sesudahnya. Amin.

Pada mulanya, aktivitas kicau di linikala twitter lebih condong pada keinginan saling menyapa, bertukar kabar, atau menumpahkan isi hati. Namun, lambat laun, komunitas kreatif bertumbuhan di twitter. Sekadar menyebut contoh, komunitas @fiksimini—yang kemudian berkembang dari satu kota ke kota lainnya di seluruh penjuru nusantara.

Besarnya keinginan berbagi antarwarga komunitas kreatif itu membuat tingginya intensitas komunikasi antarwarga twitter. Nah, dari sana pula bermula lahirnya komunitas kreatif yang kita rayakan hasil imajinasinya hari ini. @Sajak_Cinta, demikian namanya. Komunitas yang pengikut atau followers-nya telah menembus angka 50.000 ini memiliki keunikan yang sangat khas: menyajakkan cinta, mencintakan sajak.

Ihwal mengapa harus cinta yang didapuk menjadi pilihan nama, tentulah tak perlu kita perdebatkan. Seperti dituturkan oleh @PerahuKayu, “Bersiaplah cinta mengetukmu, hati selalu berpintu.” Kepahitan, kesedihan, kesepian, dan kehilangan menjadi aroma yang setiap waktu tersaji di hadapan followers @Sajak_Cinta. Begitu pun dengan keriangan, kesetiaan, kegembiraan, dan kebahagiaan. Ada yang merawikan cinta dalam bahasa yang sederhana, ada pula yang penuh kedalaman, dan menyentuh dinding-dinding permenungan. Bagaimanapun, cinta memang sumur yang mata air imajinasinya tak pernah habis, meski berkali-kali ditimba.

Selain itu, varian kompilasi karya pilihan yang ditampilkan moderator @Sajak_Cinta, menjadi bumbu yang kian menyedapkan keterbacaan dan keberterimaan karya-karya itu. Sebut saja 100 Sajak Cinta Pilihan—dengan 100 sajak terpilih dari para followers, atau 25 Sajak Cinta Pilihan—yang hanya menampilkan 25 sajak pilihan dari seorang followers. Untuk varian ini, @Bemz_Q—dengan guyonan seriusnya—sering menamainya wisuda sajak cinta.

Maka, lahirlah kumpulan sajak yang dijuduli Cinta, Kenangan, dan Hal-hal yang Tak Pernah Selesai…. Buku istimewa inilah yang sedang kita rayakan kelahirannya di tempat ini.

Kerja keras dan kebersamaan panitia menggelar acara ini adalah sisi lain yang layak diapresiasi. Oleh karena itu, terima kasih tak berhingga kami ucapkan kepada seluruh panitia yang telah menunjukkan cintanya dengan pelbagai cara. Terima kasih tak tepermanai kami ucapkan pula kepada seluruh pihak yang berkenan membantu terselenggaranya acara ini. Dan, tentu saja, kepada Tuan dan Puan yang sudi bertandang ke tempat ini, datang dari berbagai pelosok nusantara tercinta, demi berbagi cinta. Terima kasih. Lagi, dan lagi.

Kebersamaan kita hari ini adalah peristiwa bersejarah.

Tiba-tiba aku jatuh cinta, melebihi seluruh jatuh cinta,
yang pernah menyakiti dadaku.

Aku merasakan kehadiranmu, sebagai sejuk embun
—mengalir lembut di dasar sumsum.

Kelak aku akan terbakar hingga mengabu,
dan sesekali terhirup pada sesak dadamu.

Aku berterimakasih, pada ketabahanmu mencintaiku,
yang aku sendiri tak mungkin mampu menanggungnya.

Pada akhirnya,

Kuraba tanpa kata, kuketuk tanpa suara, kuucap sepenuh makna,
agar kau di luar sadar; di dalam aku bergetar.

Apa pun agamanya, Tuhannya tetap cinta.

Ema Rachmawati

Jakarta, 22 Oktober 2011

Written by: Khrisna Pabicara

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *