Pada Suatu Sore

di serambi pada suatu sore

saat matahari belum berubah terlalu merah

dan burung-burung belum tergegas terbang pulang;

 

kita duduk berayun kaki sembari menanti kudapan tersaji

anak-anak berlarian di hadapan dan terjatuh sesekali

bungsu menangis memohon uluran tanganmu –atau aku, tapi tak kau bolehkan

aku beranjak menariknya berdiri

“bangkitlah, nak. kau jatuh atas langkahmu sendiri, hentikan jerit tangismu. kegagalan takkan terasa begitu menyedihkan jika tak terus kau ratapi. berdiri dan tegapkan badanmu kembali. berlarilah hingga kau terjatuh lagi, berulang kali, hingga kesakitan tak mampu menghadirkan tangismu.”

ia terlalu muda untuk mengerti kenapa ayahnya tak mau membantu

tak juga cukup tua untuk pahami mengapa airmata boleh saja terjatuh asal tak terlalu lama menggayuti dagu

tapi toh tetap saja ia hentikan sesenggukan

mengusap ingus dengan tangan penuh tanah

–entah agar dikira berani atau karena bocah-bocah yang tak berhenti berlari telah memulai pesta tawa lain tanpanya. siapa tau ia paham, kebahagiaan tak menunggu tangis yang tak diam

segera di hadapan kita hanya tinggal kepulan debu dari derap yang terburu-buru

 

aku melirik diam-diam

: matamu tinggal garis tersanggah pipi putih bulat yang diangkat senyuman lebar

detik itu kutau, betapa surga sesungguhnya berasal dari rahim yang kau buahi:

rahimku

 

setetes air jatuh tepat di atas kepalamu

kulihat langit kelewat merah untuk senja yang biasa

maka kusudahi dongeng kali ini

kuseka basah dari kepala pusaramu dan kukecup tepat di pucuk

 

di serambi pemakaman  pada suatu sore

saat matahari telah berubah terlalu merah

dan burung-burung tergegas terbang pulang;

 

samar tawa anak-anak menggema di kepala

: sebuah pesta telah dimulai tanpaku

dan aku tak peduli

 

Pada Sebuah Kesedihan Pertanyaan Hilang Bentuk

bagaimana bisa kesedihan terasa begini menyiksa?

***

aku tahu bahwa tak sebaiknya puisi di awali dengan tanda tanya

sebab bukankah puisi sendiri adalah pertanyaan  tanpa jawaban?

tapi toh aku tetap mengawali bait demi bait puisi ini dengan kalimat tanya yang kutau

takkan pernah kutemukan jawaban

atau barangkali aku memang tak pernah berniat mencari

sebab kesedihan bisa saja dicipta untuk alasan apapun

atau bahkan tanpa alasan apapun

: selain candu

 

Kau Tuliskan Padaku Sebuah Puisi Suatu Hari

kita telah sampai, pada akhirnya

di hari-hari yang belum kita kenal namanya;

saat bagiku senja tak lagi jingga tapi merah

darah, bagimu angin tak bertiup namun berpuyuh

meluruh, luluh-lantakkan segala yang kita sangka mungkin tak kekal tapi takkan pernah tanggal;

cinta

kita

eMa, Juni 2012

Setidaknya Kita [pernah] Bahagia

dua puluh dua lewat tiga.
aku menatap ketiadaan. meramu kulit-kulit ingatan. mengadakan apa yang sesungguhnya tak ada; kau.

**

asap mengepul. membentuk lingkaran tak sempurna lalu membaur bersama udara dan debu. kau menarik tubuh sampai duduk.

“kita punya Langit. memintalah, dan Ia ‘kan melapangkan harapanmu.”

“aku minta kita.”

hening. Langit tak menjawab, pun kau. Continue reading

unfound

“aku pergi.”

“ke..?”

“entah. langit yang akan memastikan arah perjalananku.”

“jangan, kumohon. jangan pernah berada di tempat yang aku tak kuketahui keberadaanmu.”

“harus. agar kesakitan tak lagi mampu merengkuhku.”

“kumohon.. tetaplah di sini. di pelukanku. aku membutuhkanmu. biar segala kepedihan kumatikan dengan pelukan.”

“kaulah kepedihan itu. aku pergi, darimu.”

 

 

eMa. Mei 2012

Ini Tentang Kita

seperti cinta,
kau bermula dari hampa
melamba perlahan, menjejakkan bunyi
pada sunyi

seperti halnya cinta,
kau ada dari tiada
berawal pada akhir
meniadakan getir

seperti inilah cinta,
padamu, apa yang kusebut Surga.

eMa, April 2012

Pada Hari Pernikahanmu Nanti

Puisi by Disa Tannos
Posted on October 14, 2011

Suatu hari nanti kau akan menikah dengan laki-laki baik. Bukan karena kau perempuan baik (sebab kau suka bilang kau bukan perempuan baik), tapi karena kau teman yang baik. Maka teman-temanmu akan mendoakannya bagimu dan Tuhan akan mengabulkannya. Continue reading