Tentang Kepergianmu

: Novardhian Vibryanto   “Aku sanggup menghadapi seribu kepergian, tapi tak satupun kehilangan.” – Dea Anugerah   Rasa sakit itu tak pernah beranjak pergi. Tidak sedetikpun sejak kematian membawamu meninggalkan kami, hingga detik ketika kepedihan ini kutulis. Kesedihan masih sama besar dan kokoh, lapis berbaris sepanjang dada kami seolah memagari...

Sementara Kau Tertidur…

: Novardhian Vibryanto   Kehidupan telah memilih kita untuk menjadi saudara. Anak lelaki tengah super manja dan adik perempuannya yang galak. Kehidupan telah memaksa kita jatuh cinta dan saling mengurai benci. Pertengkaran sengit dengan jerit caci maki sekaligus rasa sayang selekat ikatan rahim. Kehidupan telah membawa kita tumbuh bersama....

Semesta di Tubuhku

Sejak kecil, aku adalah perempuan manja dan egois. Anak terakhir dari tiga bersaudara dengan dua kakak laki-laki dan Papa-Mama yang mengistimewakan anak perempuannya sebagai doa yang dikabulkan. Aku terbiasa mencintai diriku sendiri. Kalaupun ada orang lain atau lelaki yang kucintai, adalah semata demi melengkapi kecintaanku pada diri sendiri. Tak...

Jejak Pertama

Hap! Akhirnya terwujud juga keinginan saya buat punya blog dengan domain pribadi, yang langsung dotcom gitu! Norak. Biarin. Maklum, saya gaptek jadi ngga bisa bikin web sendiri dengan perintilannya mulai dari beli domain, daftar ini itu, bikin layout-nya dan segala macemnya yang nampaknya ribet. Jadi, saya memanfaatkan -dengan sepenuh...

kepergian

aku tak lagi bisa menulis puisi, aku tak lagi mampu melukis imaji, aku tak lagi dapat mewarnai matahari, aku tak lagi ingat melengkungkan pelangi… di wajahku, sejak pintu itu menutup di punggungmu, dan tak permah dikembalikan waktu.   eMa, 11 Oktober 2013...

Takkan ada yang istimewa hari ini

: Evangeline Rizaldi Ini malam yang biasa –hari sederhana; Langit mendung tak hujan Kaok burung bisu teredam Tak ada yang istimewa hari ini Bulan masih sama saja pucat sembunyi Awan hitam mengantungi sebagian pucuk Sabit yang bergantung malas malasan Tak ada, sayang, malam ini Biasa saja Kau mengharap pesta,...

Kau Pendarkan Birahi di Suatu Pagi. Sejak Itu Kebahagiaan Tak Pernah Sama Lagi

Sepuluh lewat enam belas. Kunyalakan api pada sebatang rokok, kuhisap dalam-dalam –satu, dua, tiga– hembuskan Asap sesaat mengaburkan pandangan dari meja seberang, buru-buru kukibas kabut tengik itu, kubaurkan dengan udara. Asbak di depanku masih bersih, baru saja diganti oleh anak muda tanpa senyum yang bolak-balik mengamatiku diam-diam sambil mengelap...

Di Rumah Barumu

di rumah baru-mu satu-dua gagak bercokol pada tiang-tiang penyangga mencengkeram baja seperti mangsa, mengantarkan kesakitan yang ditawarkan ayat-ayat para kyai ke dadaku ; mengintai desah tawa, memupuk kelelahanku   di rumah barumu aku seperti hantu tanpa mata dengan rongga menganga menjulurkan belatung — bayi kebencian terlahir dari neraka legam...

(Masih) Perihal Kehilangan

yang terpaku pada geliat detak jam dinding, waktu derap kakimu menggemakan ujung-ujung gang buntu yang terpenjara pada kepergianmu, kehilangan kecemasan yang disuarakan berulang-ulang “tak ada yang setabah langit mengulang kehilangan” katamu maka di sinilah, pada senja yang memudar, aku berjaga dan menuliskanmu dalam sebait sajak :ulir hujan di kaca...

Pada Suatu Sore

di serambi pada suatu sore saat matahari belum berubah terlalu merah dan burung-burung belum tergegas terbang pulang;   kita duduk berayun kaki sembari menanti kudapan tersaji anak-anak berlarian di hadapan dan terjatuh sesekali bungsu menangis memohon uluran tanganmu –atau aku, tapi tak kau bolehkan aku beranjak menariknya berdiri “bangkitlah,...