Menulis Resolusi; Be Happy

Ah, sudah hampir habis bulan kedua di tahun 2017 ini yah.. Tapi saya tetap ingin berbagi beberapa resolusi yang ada di hati dan kepala saya, agar terus menjadi pengingat dan penguat tekad saya. Siapa tau bisa menjadi motivasi buat kamu juga..

 

Apa sih arti bahagia?

Sepuluh tahun lalu, saat saya sedang menulis daftar resolusi, seperti sekarang ini, saya menyelipkan satu harapan yang tak tertulis; Menjadi Bahagia.

Rasanya saat itu hidup saya kacau.
Kuliah saya telah memasuki tahun keempat, namun belum juga terlihat cahaya terang dari ujung rentetan panjang mata kuliah yang belum saya ambil. Skripsi masih jauh di ujung mata. Hiks..
Sementara kisah percintaan saya tak kalah suramnya dengan perkuliahan saya. Berhubungan dengan lelaki beda agama selama empat tahun, tak membuat saya dapat melihat cahaya terang di ujung kisah cinta kami.
Belum lagi kiriman uang dari orang tua yang pas-pasan, menambah ‘derita’ hidup anak kos seperti saya.

Lima tahun kemudian, setelah saya lulus kuliah dan memiliki pekerjaan yang cukup baik, hati saya  masih juga belum tenang. Saya masih gelisah, rasanya masih ada yang kurang, rasanya sedikit lagi bahagia, tapi belum.
Saat itu teman-teman saya sudah banyak yang menikah dan beberapa di antaranya sudah memiliki kebahagiaan dunia-akhirat (bagi saya); anak. Sementara saya, masih saja luntang-lantung gagal di kisah cinta yang satu, untuk gagal lagi di kisah cinta yang lainnya.
Pekerjaan yang dicintai dan memiliki banyak teman tidak juga mampu mengisi kekosongan hati saya. Saya ingin menikah. Dan nampaknya saat itu, masih sangat jauh di awang-awang. Bok, pacar aja ngga ada yang mau diajak serius… *Sad*

 

Dan di sinilah saya sekarang, lima tahun sejak saat itu, sudah menikah dengan lelaki baik hati dan dikaruniai permata dunia-akhirat yang kini berusia 1,5 tahun. Masih memiliki penghasilan sendiri, masih bisa bergaul dengan teman-teman yang asyik, dan bebas beraktivitas dengan restu suami. Apalagi yang kurang?

Tapi tetap saja, saya merasa belum sepenuhnya bahagia. Hampir bahagia, tapi belum.

Saya merasa membenci tubuh saya yang naik 20 kg sejak melahirkan, mulai begah sama jarak kantor ke rumah yang melintasi 2 planet, pendapatan yang masih kurang banyak dengan kebutuhan hidup yang meningkat berkali lipat, kurang ini, kurang itu. Kurang bersyukur.

 

Ah.. Iya, mungkin saya hanya kurang bersyukur.

Sepanjang apapun daftar resolusi saya untuk setiap tahun, selama di setiap awalan poin goals saya masih terbersit pikiran “kalau saya kurus, saya pasti bahagia”, “kalau saya menikah, saya pasti bahagia”, “kalau gaji saya lima puluh juta, saya pasti bahagia”, “kalau bisa keliling Eropa, saya pasti bahagia” dan “kalau…” “kalau…” lainnya, saya tahu saya tak akan pernah merasa betul-betul bahagia.
Akan selalu ada kurang, akan selalu ada celah untuk merasa tidak bahagia.

Sebab, bukankah “Bersyukurlah, lalu nikmatmu akan Kutambahkan?”

Mungkin di atas segalanya, yang perlu saya lakukan adalah bersyukur terlebih dahulu terhadap apapun yang telah saya miliki, merasa cukup dan bahagia. Goal-goal berikutnya, akan saya tambahkan bukan sebagai patokan kebahagiaan, tetapi sekadar sebagai pencapaian.

 

Sebab, setelah tiga puluh tiga tahun yang menakjubkan ini, sudah seharusnya saya merasa bahagia.
Ya, kan? Smile

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *