Cinta / Keluarga / Traveling

Menikahi Seorang Pejalan

Menikah dengan seorang pejalan, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untuk kebanyakan orang.
Bagaimana tidak, hal ini berarti bahwa akan ada banyak perjalanan-perjalanan di masa datang yang akan dilakukan bersama di sepanjang usia pernikahan!
Tapi… tidak begitu dengan saya.

Memiliki suami seorang traveler, memaksa saya untuk belajar berkompromi dengan penuh keikhlasan.

Hahaha…
Well, itu kalimat yang sangat tepat untuk menggambarkan tiga tahun pernikahan saya dengan Pak Indra.

Begitu besar perbedaan yang mencolok antara saya dan dia dalam hal traveling ini;

  1. Suami saya adalah seorang traveler, pecinta traveling yang sebelah kakinya terbelenggu kewajiban sebagai seorang Suami dan Papa, sehingga semakin jarang berpergian.
  2. Saya pemalas yang lebih suka meletakkan bokong saya di tempat tidur sembari tangan saya mengetak-ngetik HP, atau meletakkannya di sofa sebuah café ditemani secangkir hot chocolate dan buku, sesekali obrolan ngalor-ngidul dengan teman, atau favorit saya, di Fitting Room sebuah fashion store. 🙂
  3. Saya tidak mengerti apa asiknya traveling.
    Saya tahu, akan banyak yang mengerenyitkan dahi membaca ini. Tapi saya memang perempuan pecinta syoping dan ngafe. Dangkal? Entahlah, membaca buku atau mengobrol di sebuah coffee shop lebih menarik daripada menghabiskan masa cuti untuk menjelajah tempat-tempat asing yang belum tentu kita sukai.
    Membeli sepasang sepatu baru terlihat lebih menyenangkan dibanding menghabiskan hamper seluruh uang tabungan selama setahun, satu tiket pesawat pulang pergi. Dan saya suka kenyamanan. Traveling memaksa saya keluar dari zona nyaman dan meninggalkan ‘sarang’ saya.

Paling tidak, itu pikiran saya. Dan selama tiga tahun pertama pernikahan kami, saya bersikukuh atas itu.

i love you.. you love me.. we’re a happy family

 

Membiarkan Dia Berjalan Sendirian

Di minggu pertama menikah, saya membiarkan suami saya pergi ke Korea sendirian. Selain karena dia sudah membeli tiket Korea setahun sebelumnya, juga karena saya tidak terlalu berminat untuk berpergian setelah rentetan acara persiapan pernikahan kami yang super melelahkan (dan super stress, tentunya)
Maka pergilah Pak Indra selama satu minggu, menjelajah Korea Selatan sendirian. Single Honeymoon. :’)
Cukuplah saya menikmati foto-fotonya, dan euphoria perasaan menjadi pengantin baru (yang sendirian).

dia menyisakan tempat di sampingnya, mungkin untuk ditempel foto saya T_T [source: @indrax]
He’s at Nami Island [source: @indrax]

Sebagai hadiah ulang tahun saya yang kebetulan jatuh pada tiga hari sebelum ulang tahun pernikahan kami, Pak Indra telah dengan sengaja membeli dua tiket sekali jalan Jakarta – Tokyo, yang dibeli setahun sebelumnya. Rencanya, saya dan Pak Indra hendak merayakan hari jadi pernikahan kami yang pertama, serta ulang tahun saya yang pertama sejak menjadi seorang istri.
Tapi saya galau. Ketika itu Arsakha masih terlalu kecil, belum lagi MpAsi. Manalah saya berani membawanya bertualang ke negara dingin di musim gugur, ya kan? Belum lagi keuangan kami yang belum stabil pasca lahiran dan memnuhi kebutuhan pernak-pernik bayi kecil.
Ahhh… that was too much too handle! Paling tidak, itulah alasan yang saya kemukakan ke Pak Indra untuk kami batalkan saja rencana perjalanan kami, dan merayakan perayaan ulang tahun di Jakarta saja.

Tapi dia menolak. Sebagai traveler sejati (beuh..) manalah mungkin dia membiarkan kesempatan berjalannya hilang di depan mata?
Maka kami sama-sama menang. Saya dapat alasan menghindar untuk tidak pergi, dia tetap melakukan perjalanannya sendirian. Lagi.

dia mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya di laman facebooknya. sa ae pak indra

 

Kali ketiga saya dengan ikhlas membiarkannya berjalan-jalan sendirian adalah saat dia sedang down karena masalah pekerjaan, dan memohon saya untuk membiarkannya mengambil liburan singkat ke Flores.
Sialnya, saat itu kebetulan bertepatan di bulan Oktober. Tepat di mana saya berulang tahun, sekaligus ulang tahun perkawinan kami yang kedua. So saaaaddd... masa saya harus rela ditinggal lagi sih?
Tapi saat itu saya tidak bisa mengambil cuti karena saya baru pindah divisi dan project di kantor sedang banyak-banyaknya, padahal saya ingin sekali ikut pergi (atau tidak? hmm..)

Dan karena dia sangat membutuhkan perjalanan itu demi menutupi kegundahannya akan masalah yang sedang dia hadapi, lagi-lagi saya merestui solo trip-nya.
Maka pergilah dia berkeliling pulau-pulau indah di Flores dengan menumpang kapal tour milik teman kami Indahnesia.

 

lagi-lagi ucapan dari selembar kertas. *sigh* [source: @indrax]

Eh, tapi kali ini ada yang sedikit spesial dari Pak Indra. Usahanya bertambah, tidak lagi hanya tulisan dari selembar kertas, tapi dia meminta seorang Bapak tua warga asli Flores untuk mengucapkan ulang tahun buat saya.
Uhu.. bagaimana lah hati saya tak luluh? :’)
Si cowo dingin anti menye-menye berubah semanis ini setiap dia pergi sendirian. KARENA MENEBUS RASA BERSALAHNYA! Hih. Dipikirnya ai tak tau apa?! Sogokan! Hih.

Ya.. tapi, bolela.. Dikit-dikit senyum-senyum sendiri juga aku dibuatnya… :”>

 

ngeliat foto yang begini, gimana ngga bikin senyum lihat kebahagiaan dia, ya kan?

 

Sering saya ditanya sama teman-teman “kok rela ditinggal sendirian, semetara dia senang-senang?”, atau menerima salut dari beberapa orang karena ikhlas membiarkan suami Me-Time sendiri sementara saya harus bekerja dan mengurus anak di Jakarta. Bahkan ratapan iri teman-teman laki-laki saya “ENAK BANGET PUNYA ISTRI KAYA ELO?!! Coba bini gue… hadeuuhh..” x)))
Mereka bertanya, apakah saya tidak marah? Apakah saya benar-benar rela? Apakah saya disogok oleh-oleh mahal? (HAHAHA! sukur kalo dia masih inget nysihin duitnya buat beli oleh-oleh, bisa pulang aja Alhamdulillah!)

Entahlah, menurut saya ini adalah sebuah win-win solution.
Saya yang eman-eman sama duit yang dihamburkan untuk membeli tiket pesawat dan malas berjalan ke tempat-tempat jauh, harus menjaga kebahagiaan suami saya dengan hobi traveling-nya.
Membiarkannya pergi sendiri sama saja menghemat pengeluaran rumah tangga, menjaga zona . nyaman saya, namun tetap membebaskannya melakukan hal yang suami saya cintai sejak masa lajangnya.

Bukankah menjaga kewarasan dengan tetap menjadi diri sendiri adalah kunci kebahagiaan?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *