(Masih) Perihal Kehilangan

yang terpaku pada geliat detak jam
dinding, waktu
derap kakimu menggemakan
ujung-ujung gang buntu

yang terpenjara pada kepergianmu,
kehilangan
kecemasan yang disuarakan
berulang-ulang

“tak ada yang setabah langit
mengulang kehilangan” katamu

maka di sinilah, pada senja
yang memudar, aku berjaga
dan menuliskanmu dalam
sebait sajak

:ulir hujan di kaca jendela

sementara udara
mengeringkan doa-doa
daun-daun rapuh melayangkanmu
sebelum ia terjatuh

eMa, 2012

*diedit dengan sangat baik oleh Liza Samakoen

2 thoughts on “(Masih) Perihal Kehilangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *