cerpen

Kau Pendarkan Birahi di Suatu Pagi. Sejak Itu Kebahagiaan Tak Pernah Sama Lagi

Sepuluh lewat enam belas.

Kunyalakan api pada sebatang rokok, kuhisap dalam-dalam

–satu, dua, tiga– hembuskan

Asap sesaat mengaburkan pandangan dari meja seberang, buru-buru kukibas kabut tengik itu, kubaurkan dengan udara.

Asbak di depanku masih bersih, baru saja diganti oleh anak muda tanpa senyum yang bolak-balik mengamatiku diam-diam sambil mengelap meja tak kotor di balik bar. Aku mengabaikannya.

“Baileys, double,” Ia mengangguk.
Tak lama datang satu gelas bulat berisi cairan coklat susu yang dihiasi cherry merah di pinggirnya, sementara tangan satunya membawa asbak baru yang kemudian ia tumpukkan terbalik di atas asbakku yang sebentar telah penuh puntung bernoda lipstik, lalu kemudian membaliknya.
Dan asbakku bersih kembali.

Hhmmm.. Cekatan, pikirku.
Aku selalu menyukainya, meski pelit bicara dan tak pernah tersenyum, tapi ia selalu tahu apa yang aku inginkan. Tidak tak sabaran menungguiku yang hanya membuat tempat kerjanya berkabut.
Tapi bukan dia, bukan anak muda ini yang membuatku selalu kembali ke bar ini.

Aku memandang sekeliling. Menyesap gelas cokelat susu pahit-ku yang ketiga.

Aku selalu menyukai tempat ini, tepatnya. Papan-papan kayu yang selalu berderit bila diinjak; memudahkanku untuk mengetahui siapa saja yang datang atau mendekat, lampu kuning muram; membuat make up-ku selalu terlihat sempurna dari cermin besar di samping kursi bar tempatku duduk, pintu kaca berat yang berdebam bila tertutup; memampukanku meningkatkan ritme kerja jantungku tiga setengah kali lebih cepat, dan kamar mandinya;
Kamar mandi berdinding semen batu, berlantai papan kayu. Lampu gantung yang meninggalkan bayang-bayang erotis di kepalaku. Gema yang memantulkan suara-suara pelan dan bisik tertahan, bergaung di telingaku berulang-ulang. Berulang-ulang.

Mataku sekali lagi tertumbuk pada meja di seberang kananku. Meja kedua dari pintu geser kamar mandi. Kosong. Di mana dia.

***

Aku mengambil gelas bundar kosong dari mejanya, sebelum ia meminta segelas double Baileys lagi. Cherry-nya tak pernah dimakannya. Dia hanya selalu memainkan tangkainya, melilitkannya pada ujung lidahnya sebelum dilepas lagi.
“Kau tahu, bila kau mampu mengaitkan tangkai cherry pada lidahmu, artinya kau pandai mencium,” katanya, setiap kali aku kepergok sedang mengamatinya.
Aku mengangguk dan pergi mengambil asbak baru untuk puntung rokok yang tak usai-usai dia hisap, bahkan saat usia kandungannya sudah sangat tua. Bahkan saat dia sepertinya baru beberapa jam melahirkan. Bahkan saat badan tambun khas Ibu hamil telah lenyap dari tubuhnya. Tak sekalipun dia absen dari rokok, Baileys dan kursi bar itu.

Aku sering mengamatinya. Wanita biasa saja berumur pertengahan tiga puluh. Berambut coklat tua dan bermata besar. Cantik, sebetulnya, andai saja dia tak selalu menghisap rokoknya dalam-dalam dan menahannya beberapa saat sambil memejamkan mata –seolaholah menghayati sesuatu sementara berdoa– lalu membuka mata saat asap memenuhi pandangannya. Hisapan itu meninggalkan kerut pada wajahnya lebih dari yang seharusnya.

Malam ini aku harus berbicara padanya. Aku tak lagi punya waktu memendamnya.

***

Dua belas lewat empat puluh tiga.

Aku berdebar. Tak ada suara debam pintu. Tapi tak apa, seharusnya ia datang saat ini juga. Ada yang harus kuberitahukan padanya. Ia pasti akan terkejut, terdiam sebentar, lalu tertawa bahagia.
Kusesap cokelat susu pahit keenamku, kuhisap dalam-dalam rokokku –satu, dua, tiga– kuhembuskan hingga asapnya lagi-lagi mengahalangi pandanganku lalu kukibas dengan tak sabar sambil memandang ke meja seberang kanan.
Kosong.

***

Malam ini bar terasa lebih sepi dari biasanya. Sebagian besar kursi dan meja tak ada. Hanya tersisa sepasang bangku bar, dan dua pasang meja-kursi di samping pintu geser kamar mandi.
Tiga gelas bundar dan sebotol Baileys yang sengaja kusisakan untuknya. Terakhir kalinya. Aku harus bicara.

Sesaat setelah dia menghisap rokok dan memejamkan matanya, aku berdiri di depannya. Ia terkejut mendapatiku saat kepul asap telah mereda.

“Nyonya, sudah jam tiga, saatnya anda pergi dan tak kembali.”
Dia bergeming tak mengerti. Lalu mengangguk-angguk lelah.

“Tidak, anda tak mengerti. Anda tak bisa lagi kembali ke sini. Kami akan tutup, se-la-ma-nya”
Sengaja kutekankan kata pada akhir kalimatku.

Dia terperanjat. Diam sebentar. Lalu tertawa terbahak-bahak.
“Kau bisa juga bercanda, rupanya, anak muda. Bagaimana mungkin kalian pergi setelah sekian lama?”
Aku diam.
“Sudah tiga belas tahun, Nyonya, kami tak lagi mampu bersaing dengan cafe-cafe mentereng di ujung jalan. Kami sudah lawas dan kuyu. Pengunjung tak berminat lagi menghabiskan malam di bar usang ini. Tak juga lelaki itu, Nyonya.. Lelaki berkaca mata yang selalu kau tunggu di setiap malammu, lelaki yang kau harapkan kehadirannya di meja seberang itu. Dia takkan pernah kembali, takkan satu kali pun, meski bar ini tetap buka hingga seratus tahun lagi.”

Kata-kata terakhirku-lah yang menamparnya keras-keras. Seketika kepalanya terangkat, mata besarnya membulat terperanjat. Itulah pertama kalinya aku melihat nyawa di matanya, sejak malam terakhir dulu.

“Kau ingat! Kau ingat ia! Aku mohon, cuma kau yang menyaksikan kami waktu itu. Kau ingat ia! Ayolah, bantu aku, bantu aku mengingat-ingat lagi bagaimana rupanya. Aku hampir lupa. Aku hampir lupa bagaimana parasnya saat ia tiba-tiba muncul dari balik asap rokokku, tersenyum, mengatakan aku cantik dengan gaun cokelat yang senada dengan minumanku, lalu, lalu, ahh.. Bayang-bayang telanjang di bawah lampu remang. Desahan-desahan dan bisik jerit tertahan di bilik kamar mandi. Ah, aku lupa. Bagaimana rupanya. Ia berkaca mata. Betul. Berkaus kerah merah muda dan sepatu cokelat yang tak sempat ia tanggalkan saat kami bercinta di sana. Bentuk bibirnya, kuluman lidahnya yang berputar di mulutku seolah ia sedang memilin tangkai cherry yang ia ambil dari gelasku. Ahh.. Semakin samar saja. Tapi kau ingat! Kumohon, bantu aku, bantu aku. Agar aku langsung mengenalinya saat ia datang dan mengatakan kepadanya bahwa kami sempat punya bayi setelah malam itu. Kami sempat akan bahagia…”

“Dia takkan pernah kembali, Nyonya. Sudah tiga belas tahun. Anda harus mengerti.”

“Tidak. Ia akan datang dan mengajakku bercinta lagi. Tidak di sini, katanya waktu itu, di rumahnya, kelak, sebagai pendamping di setiap pagi-nya.”

“Dia bukan berasal dari kota ini. Dia hanya singgah sebentar dan tak lagi ingat tentang janji.”

“Tidak!! Ia bilang ia tinggal di sini. Hanya saja aku lupa menanyakan di mana alamatnya. Aku telah mencari tapi tak ketemu. Namun ia akan kembali. Ia harus tau, bahwa wajah putrinya sangat cantik saat tertidur tanpa sempat terbangun dan melihat dunia.”

“Dia hanya menunggu kereta yang datang sesaat setelah cafe ini tutup dan anda berjalan pulang, Nyonya. Saya melihat sendiri dia menaiki kereta itu dengan menenteng kopor di tangannya. Maaf, saya tak pernah memberitahu anda. Dia telah lama pergi, Nyonya. Dan anda berhak bahagia.”

Aku mengambil gelas setengah kosong dan asbak penuh abu dari mejanya. Tanpa pernah menggantinya lagi.

***

Kopor. Aku ingat, kopor besar di samping kursi. Kopor.
Dia telah pergi.

***

Pintu kamar mandi bergeser. Papan-papan kayu berderit meninggalkan gema di selasar lorong kamar mandi. Lampu kuning remang sempat bergoyang memantulkan bayang-bayang telanjang pada dinding, sebelum ditarik paksa untuk dipecahkan pada kaca. Padam. Pecahannya menancap pada leher wanita bergaun cokelat susu. Kini gaunnya berbercak merah darah, persis seperti merah cherry yang tangkainya melilit di ujung lidahnya.

#####

Ema Rachmawati
Dini hari di bulan November 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *