Hey, Sakha Mau Sekolah!

Akhirnya tiba.

Ketika Mamak harus mulai menyiapkan hati untuk melepas anak bayik ini untuk menapaki jenjang sekolah. *usap pipi*

Sebetulnya saya dan Pak Indra berencana memasukkan Arsakha ke sekolah dini sejak usianya 1,5 tahun, karena sedang trend sekali anak sekolah dari masih bayi, ya.. *dangkal*
Saya mendengar beberapa teman yang anaknya dimasukkan sekolah sejak usia 1 tahun, untuk merangsang motorik kasar dan halusnya. Dan saya jadi latah.. xP

Namun sejak Pak Indra dan saya diberkahi rezeki oleh Allah untuk bisa bekerja di rumah, kami jadi memiliki lebih banyak waktu bersama-sama. Termasuk sedikit-sedikit mengajari Arsakha untuk sekadar merangsang motoriknya, belajar baca-tulis, pengenalan bentuk benda, pengenalan angka, dan mengaji (yang ini, mamanya jugak masih belajar banget! huhu..)
Di rumah pun, Sakha dikelilingi banyak orang. Ada Eyang-eyangnya, Papa, Mama, Mbokde (pengasuhnya), dan keempat kucing petakilannya.
Belum lagi kegiatan Mamak yang segudang, mondar-mandir ke sana kemari sambil ngajak Sakha pergi kemana-mana. Bertemu orang banyak, bersosialisasi dengan agama, manusia, juga teman-teman sepantarannya.

Hal ini membuat saya dan Pak Indra yakin, Insyaa Allah Sakha tidak kekurangan ‘pendidikan dini’ dan wadah untuk bersosialisasi. Akhirnya kami sepakat untuk menundanya sampai usia cukup sekolah; 4 tahun.

 

Seleksi Sekolah

Sebagai pasangan Yin-Yang, saya si Mamak Banyak Mau dan Pak Indra si Bapak Terserah Kamu-lah, kami ngga mengalami pertikaian berarti dalam memilih sekolah (re: mamak menang tanpa perlawanan), memudahkan saya untuk membuat spesifikasi. Inilah bahan pertimbangan saya untuk memilih sekolah untuk Arsakha;

  1. Lokasi
    Berhubung kami dikasih rezeki rumahnya di daerah pedalaman, yaitu Pamulang, jadi tentu kami mengerucutkan pilihan sekolah di area Bintaro, Pamulang, Ciputat, BSD.
  2. Sekolah Islam
    Ini penting sekali untuk kami.
    Kami berdua bukanlah orang tua yang memiliki pengetahuan mendalam soal agama. Mengaji Al-Quran pun kami masih belum benar, apalagi mengkaji isi Al-Qur’an. Kami sadar diri, bekal kami minim sekali untuk mengajari Arsakha menjadi anak sholeh dengan akhlak dan adab muslimin calon penghuni syurga.
    Oleh karenanya kami butuh sekolah Islam dengan bobot kurikulum agama yang lebih besar sedari dini. Untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dan pemahaman dasar sesuai adab dan akhlak sunnah Rasulullah.
    Sebab tanggung jawab kami-lah untuk mendidik anak-anak kami menjadi anak yang sholeh dan sholehah, semoga kelak bisa berkumpul di surga Allah. Aamiin.
  3. Kurikulum menggunakan Metode Montessori
    Metode Montessori yang terkenal ini terbukti berdampak positif untuk kemandirian, ketangkasan, pembuktian diri, dan menumbuhkan rasa sosial anak terhadap lingkungan sekitar.
    Hari gini, pendidikan anak yang hanya mementingkan nilai akademisnya saja, tidak lagi menjadi fokus utama di dunia pendidikan.
    Anak-anak diarahkan untuk mengenali potensi masing-masing dan meraih potensi tersebut. Kesuksessan tidak lagi dilihat berdasarkan angka-angka pelajaran dasar di dalam raport, namun kemampuan di luar akademis dan keunggulan masing-masing siswa juga sangat diapresiasi.
    Karena itulah, saya ingin Arsakha memiliki kesempatan untuk mengembangkan dirinya dengan lebih baik di sekolah yang tidak hanya memandang nilai akademis sebagai tombak pencapaian.
  4. Biaya Sekolah
    Oh, tenang. Masuk sekolah mana aja juga boleh, asal Mamak masih bisa beli make up dan jilbab. :’)
    Sekolah-sekolah jaman sekarang mahal-mahal ya, Ya Raabbb..
    Jaman dulu nih, masuk SMA cuma 350.000 perak, buat 3 taon, itu juga boleh dicicil selama 3 kali. Uang SPP cuma 35.000/bulan.
    Sekarang….. …… sate ayam aja 25.000/10 tusuk. (.___.)
    Yah, tapi kan, mau kasih pendidikan yang terbaik buat Arsakha, ya. Mahal sedikit ngga apa, asal tetep murah. *mumet*

 

 

Berangkat dari referensi teman-teman, berselancar di blog-blog sekolah anak, menyimak percakapan group mengenai testimonial sekolah, akhirnya saya mengerucutkan pilihan sekolah untuk disurvey langsung.

Catatan perjalanan masing-masing survey, akan saya jelaskan di postingan selanjutnya, yaaa….

 

Terima kasih sudah membaca catatan kecil ini. *cium*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *