Di Rumah Barumu

di rumah baru-mu

satu-dua gagak bercokol pada tiang-tiang penyangga

mencengkeram baja seperti mangsa, mengantarkan kesakitan

yang ditawarkan ayat-ayat para kyai ke dadaku

; mengintai desah tawa, memupuk kelelahanku

 

di rumah barumu

aku seperti hantu tanpa mata dengan rongga menganga

menjulurkan belatung — bayi kebencian terlahir dari neraka legam

di mana jantungku berada

 

di rumah barumu

aku mengamini doa-doaku sendiri

 

eMa, September 2012

4 Comments

  1. mbak Em,
    dirimu ambil kelas sastra tah??
    tulisannya ngeri, merinding yg baca m/
    pernah di bikin buku atau cuma di blog aja..

    curhat lagi bole?? 😀

    sebaris ceritamu tentang dia..
    kurasa,
    siluet redup subuh rubuhkan mimpi,
    fajar datang menenteng hari gagalku,
    kurasa,
    embun pagi terlalu istimewa,
    asap dapur membuncah, hanya api yg ada,

    sungguh
    aku ingin berhenti membawa pedang,
    mengakhiri perang dengan dosa
    sungguh
    terlalu megah ucapku,
    membangkai mengompos luruh otak,

    seakan
    aku menari dengan Azazel,
    tertawa layak hyena, mengikis kutukmu
    seakan
    hilang naluri, lapar jiwa, air mata
    nafasmu rubuhkan aku lagi

    melirikmu meratap..

    *maaf, kalo kesannya numpang
    #jgn bawa parang ya ==”

    1. hahahaha..

      ngga pernah ambil kelas sastra, cuma penikmat karya sastra yang mencoba untuk meninggalkan jejak.

      terima kasih sudah mampir ke sini..

      karya kamu juga bagus. sungguh. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *