di Bibirmulah Hendak Kutitipkan Matahari

September 20, 2010

Leukemia. Tahap akut. Lima bulan tersisa.
Berpuluh-puluh kali pingsan dalam sehari. Mimisan berulang kali. Nyeri di seluruh sendi.
Lima gejala akhir: bintik merah di tubuh, menggigil di setiap subuh, pendarahan gusi. Tubuh membiru akibat sesak. Bintik merah di selaput mata.

Kulafalkan berulang. Berulang-ulang. Aku mulai menghitung hari.

September 23, 2010

Takkan lagi memakai seprai putih. Noda darah tercetak jelas seperti bercak perawan. Sulit sekali hilang.

September 29, 2010

Hampir saja, maut menjemput lewat kereta pengangkut saat tetiba pingsan di pinggir stasiun. Kupikir Tuhan mengajak bercanda.

Oktober 13, 2010

Ulang tahunku. Jangan sekarang, Tuhan. Hapuskan dulu ngilu itu.

Oktober 22, 2010

Ada! Akhirnya muncul juga. Bintik sebesar koin gocapan di paha kiri. Untung dia terlelap, tak perlu tau ini.

Oktober 30, 2010

Ah, hanya perlu membeli beberapa potong baju dan celana. Oke, seluruh isi lemari ternyata harus diganti. Tak apa, toh kami memang perlu penampilan baru.

Desember 31, 2010

Tak apa. Tahun baru tak perlu pesta, cukup berdoa dalam hati. Kita lebih butuh jawaban Tuhan dibanding kembang api. Tahun depan saja, kita siapkan pesta. Barangkali.

Januari 11, 2011

Siapkan selimut empat lapis. Gemeletuk gigi makin gigil menjelang dini hari. Aku hanya takut ada lidah yang terpotong. Lalu tertelan. Duh.

Januari 29, 2011

Darah di sikat gigi. Di lantai kamar mandi … Tuhan.

Februari 14, 2011

Keparat Kau, Tuhan!! Apa yang telah kami lakukan padaMu. Segala yang Kau titahkan, telah kami laksanakan. Semua laragan, kami jauhkan. Keparat!! Mengapa kami. Mengapa dia. Mengapa aku. Kasihani kami, Tuhan. Aku memohon, dengarkan aku! Dengar, Tuhan. Sekali ini saja dengarlah aku.

Februari 18, 2011

Oksigen. Cuma itu penyelesaiannya, pasti. Tabung oksigen mahal. Brengsek! Aku sudah tak punya uang. Tapi setidaknya akan meredakan sesak nafas sialan itu. Sebelum seluruh tubuh membiru.

Februari 28, 2011

Aku tau, ada puisi terselip di dasar laci. Ah, kau, masih saja semanis dulu. Andai Tuhanpun suka puisi, sayang.

Maret 10, 2011

Delapan bulan tak bercinta. Malam ini terasa surga. Ternyata di ambang neraka masih dapat kudapati nirwana. Dan kau, masih saja perkasa. Sialan! Aku kelewat bahagia, andai tak kulihat bintik di mata itu. Tanda terakhir sebelum mencapai tepi takdir.

“Ma, ada bintik merah di mataku”

Aku tau, akupun melihatnya tadi, usai kita bercinta. Bisa kita tak membahasnya?

“Hari ini jadwal cuci darah kan, Ma? Temani aku ya.”

“Tentu, sayang.” Hebat. Aku masih sanggup tersenyum.

*

09.52

Kau begitu kurus, sayang. Begitu menderita. Melihatmu terlelap tinggal rangka dan wajah pasi di antara selang dan tik-tak mesin ini, rasanya aku lebih baik mati.

11.47

“Berapa lama aku tertidur? Aku begitu merindukanmu dalam lelapku.”

Tidurlah sayang, paling tidak aku tau kau masih bernafas.

“Kita ambil kamar rawat inap malam ini, ya Ma. Aku ingin berdua saja denganmu.”

“Iya, terserah kamu aja, sayang. Aku urus administrasinya dulu kalau gitu ya. Kamu lapar? Aku beli roti sekalian, roti kopi kesukaanmu dan green tea latte favoritku. Makan berdua di atas ranjang, lantas bercinta sesudahnya. Seperti jaman kita remaja.”

Bercanda, tentu saja. Kau terkekeh, lemah. Tubuhmu mendadak terlihat begitu ringkih. Seolah akan hancur berkeping dengan satu sentuhan jari kelingking. Ingin kubutakan mataku agar tak mendapatimu seperti itu.

Tuhan, aku memanggilMu.

“Jangan, di sini sajalah kau. Jangan tinggalkan aku. Aku hanya perlu kau. Kemarilah, rebah di sampingku. Sudahkah kubilang tadi, aku merindukanmu?”

“Sudah, sayang. Sudah.”

“Ah, kalau begitu aku katakan saja tentang cintaku padamu. Aku mencintaimu, perempuanku.”

Dadamu tak sebidang biasanya. Tulang igamu sedikit menyakiti pipiku. Rasanya subuh tadi kau masih begitu perkasa. Seakan setiap menit waktu meniadakan berat tubuhmu.

“Dan aku, mencintaimu dengan luar biasa, lelakiku.”

Tuhan. Aku masih berlutut memohon.

Kau mendengkur, sayang. Ternyata sudah lelap tertidur. Tak sempatkah kau dengar gombalan puisiku barusan? Puisi yang sama yang ku ulang setiap hari. Semoga kau tak bosan.

“Aku mencintaimu, sayang. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu.”

Jangan berhenti. Kumohon jangan berhenti, sayang. Jangan hentikan dengkurmu. Aku masih ingin merapalkan cintaku, agar merasuk ke jantungmu. Aku masih ingin memutar lagukan cintaku, agar Dia mendengar kita, sayang. Kumohon jangan berhenti dulu. Tuhan belum sempat penuhi janji-Nya, kita belum bahagia sampai senja.

Kumohon, sayangku.
Kumohon, Tuhan.
Kumohon.

***

Maret 11, 2011

Lain kali aku akan mendebatkan para tetua, kenapa pemakaman selalu hitam dan putih. Membosankan. Semestinya merah. Seperti warna cinta. Toh ia tak ikut mati, bersamamu.

Kuaduk laci. Mencari puisi yang kutau kau tak ingin kutau sebelum kau pergi. Ada. Ah, bernoda darah. Malam itu pasti kau menderita.

Di dadaku, ada nyala api abadi
Untukmu, aku punya cinta yang melebihi usia matahari
Dan bila kelak langit kita mesti menemu tepi,
Di bibirmulah hendak kutitipkan matahari.

Ps: kukawinkan seluruh kata dalam puisi. agar kau tau, kita abadi. semoga kau menyukainya, Cinta.

Aku telah mengerti, Tuhan. Terima Kasih.

****

*based on true story, 2004*

eMa, Oktober 2011

19 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *