Menumbuhkan Bonding Ibu dan Anak Dengan Sentuhan

Memiliki Arsakha adalah sesuatu yang saya idam-idamkan jauh sebelum saya menikah. Bahkan saat saya masih berusia 20 tahun, saya rindu sekali ingin memiliki seorang bayi yang terlahir dari rahim saya sendiri. Maka ketika Tuhan mengizinkan satu nyawa bertumbuh dalam tubuh saya, saya mempersiapkan segalanya untuk menyambut kelahirannya ke dunia. Termasuk mengikuti seminar dan pelatihan cara memandikan bayi. >,<

Iya. Saya takut tidak bisa memandikan bayi.
Duh, membayangkan bagaimana memegang bayi seberat 3kg dengan tangan basah dan licin penuh busa saja saya sudah ngeri. “Gimana kalau merosot terus tenggelam, gimana kalau kepalanya yang masih lunak itu kejedot bak ember mandinya, gimana kalau hidungnya kemasukkan air, gimana kalau matanya kena sabun, gimana.. gimana.. gimana..” dan seribu ketakutan lainnya. Continue reading

Kau Tuliskan Padaku Sebuah Puisi Suatu Hari

kita telah sampai, pada akhirnya

di hari-hari yang belum kita kenal namanya;

saat bagiku senja tak lagi jingga tapi merah

darah, bagimu angin tak bertiup namun berpuyuh

meluruh, luluh-lantakkan segala yang kita sangka mungkin tak kekal tapi takkan pernah tanggal;

cinta

kita

eMa, Juni 2012

Setidaknya Kita [pernah] Bahagia

dua puluh dua lewat tiga.
aku menatap ketiadaan. meramu kulit-kulit ingatan. mengadakan apa yang sesungguhnya tak ada; kau.

**

asap mengepul. membentuk lingkaran tak sempurna lalu membaur bersama udara dan debu. kau menarik tubuh sampai duduk.

“kita punya Langit. memintalah, dan Ia ‘kan melapangkan harapanmu.”

“aku minta kita.”

hening. Langit tak menjawab, pun kau. Continue reading

Ini Tentang Kita

seperti cinta,
kau bermula dari hampa
melamba perlahan, menjejakkan bunyi
pada sunyi

seperti halnya cinta,
kau ada dari tiada
berawal pada akhir
meniadakan getir

seperti inilah cinta,
padamu, apa yang kusebut Surga.

eMa, April 2012

Cinta Sudah Mati Baru Saja Tadi

aku dan teriakan-teriakan hening
panjang berdentang-denting
dalam rindu yang bersahutan
tanpa lagu, tanpa nyanyian

sayang,
ini bahkan bukan puisi
sekedar racauan sunyi
aku bahkan tak lagi dapat kau temui

cinta yang sempat terlahir dari rahim waktu
kini bernama masa lalu,

sudah mati — baru saja tadi

di depan pintu yang kau banting
hingga sisa tawa terpelanting
lalu jatuh di ujung sepatu
bisu
membeku
mati.

###

ema, oktober 2011