Category: cerpen

Kau Pendarkan Birahi di Suatu Pagi. Sejak Itu Kebahagiaan Tak Pernah Sama Lagi

Sepuluh lewat enam belas. Kunyalakan api pada sebatang rokok, kuhisap dalam-dalam –satu, dua, tiga– hembuskan Asap sesaat mengaburkan pandangan dari meja seberang, buru-buru kukibas kabut tengik itu, kubaurkan dengan udara. Asbak di depanku masih bersih, baru saja diganti oleh anak muda tanpa senyum yang bolak-balik mengamatiku diam-diam sambil mengelap...

Setidaknya Kita [pernah] Bahagia

dua puluh dua lewat tiga. aku menatap ketiadaan. meramu kulit-kulit ingatan. mengadakan apa yang sesungguhnya tak ada; kau. ** asap mengepul. membentuk lingkaran tak sempurna lalu membaur bersama udara dan debu. kau menarik tubuh sampai duduk. “kita punya Langit. memintalah, dan Ia ‘kan melapangkan harapanmu.” “aku minta kita.” hening....

di Bibirmulah Hendak Kutitipkan Matahari

September 20, 2010 Leukemia. Tahap akut. Lima bulan tersisa. Berpuluh-puluh kali pingsan dalam sehari. Mimisan berulang kali. Nyeri di seluruh sendi. Lima gejala akhir: bintik merah di tubuh, menggigil di setiap subuh, pendarahan gusi. Tubuh membiru akibat sesak. Bintik merah di selaput mata. Kulafalkan berulang. Berulang-ulang. Aku mulai menghitung...