Biarkan Saja Kesedihan Tinggal Sebagaimana Mestinya

sengaja kumatikan lampu
agar tak kulihat ketiadaanmu
di setiap malam-malamku

Jakarta, 2011.

eMa, 2011

3 thoughts on “Biarkan Saja Kesedihan Tinggal Sebagaimana Mestinya

  1. membaca ini tiba-tiba ingat puisi Malna…
    “tanganku sudah mematikan semua lampu agar bisa menjadi gelap dan merasakanmu….”
    jika puisi Malna mematikan lampu agar bisa merasakan kehadiran, maka punyamu ini sebaliknya.

    singkat dan seperti ada ketersiksaan di setiap malam.
    ah….

  2. judul puisinya, obat nyamuk di lantai 23. ada di buku antologi puisi pada bantal berasap hal 121.
    kalau utuh tentu saja sangat jauh berbeda dengan puisi singkat kamu ini. jauh lebih kompleks.

    membaca puisi Malna, seperti makan kwaci satu dus indomie. tak henti-henti. tak kenyang-kenyang pula.
    tapi hendak terus mengunyah. sedangkan melukiskan makna puisi Malna itu ibarat minum wine yang dicampur dengan coca-cola, fanta merah, topi miring, serta sedikit tuak dan bir hitam. bisa diminum dan dinikmati, tentu, dengan rasa yang entah. namun itulah justru keunikan Malna, dia menggadang-gadang diksi khas daerah urban perkotaan. Malna menguakkan luka jiwanya dengan rasa sunyi yang aneh dan lucu sekaligus. membuat kita dihempas dalam ketaktuntasan untuk menangkap pesan dan makna puisinya. (John Ferry Sihotang)

    nah, kenapa pula aku malah membahas Malna. hehe…
    bila belum punya bukunya, kau bisa meminjamnya ke @lizacica 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *