Sepuluh lewat enam belas. Kunyalakan api pada sebatang rokok, kuhisap dalam-dalam –satu, dua, tiga– hembuskan Asap sesaat mengaburkan pandangan dari meja seberang, buru-buru kukibas kabut tengik itu, kubaurkan dengan udara. Asbak di depanku masih bersih, baru saja diganti oleh anak muda tanpa senyum yang bolak-balik mengamatiku diam-diam sambil mengelap...