Di Rumah Barumu

di rumah baru-mu satu-dua gagak bercokol pada tiang-tiang penyangga mencengkeram baja seperti mangsa, mengantarkan kesakitan yang ditawarkan ayat-ayat para kyai ke dadaku ; mengintai desah tawa, memupuk kelelahanku   di rumah barumu aku seperti hantu tanpa mata dengan rongga menganga … Continue reading

(Masih) Perihal Kehilangan

yang terpaku pada geliat detak jam
dinding, waktu
derap kakimu menggemakan
ujung-ujung gang buntu

yang terpenjara pada kepergianmu,
kehilangan
kecemasan yang disuarakan
berulang-ulang

“tak ada yang setabah langit
mengulang kehilangan” katamu

maka di sinilah, pada senja
yang memudar, aku berjaga
dan menuliskanmu dalam
sebait sajak

:ulir hujan di kaca jendela

sementara udara
mengeringkan doa-doa
daun-daun rapuh melayangkanmu
sebelum ia terjatuh

eMa, 2012

*diedit dengan sangat baik oleh Liza Samakoen