Setidaknya Kita [pernah] Bahagia

dua puluh dua lewat tiga.
aku menatap ketiadaan. meramu kulit-kulit ingatan. mengadakan apa yang sesungguhnya tak ada; kau.

**

asap mengepul. membentuk lingkaran tak sempurna lalu membaur bersama udara dan debu. kau menarik tubuh sampai duduk.

“kita punya Langit. memintalah, dan Ia ‘kan melapangkan harapanmu.”

“aku minta kita.”

hening. Langit tak menjawab, pun kau. Continue reading

unfound

“aku pergi.”

“ke..?”

“entah. langit yang akan memastikan arah perjalananku.”

“jangan, kumohon. jangan pernah berada di tempat yang aku tak kuketahui keberadaanmu.”

“harus. agar kesakitan tak lagi mampu merengkuhku.”

“kumohon.. tetaplah di sini. di pelukanku. aku membutuhkanmu. biar segala kepedihan kumatikan dengan pelukan.”

“kaulah kepedihan itu. aku pergi, darimu.”

 

 

eMa. Mei 2012